Pada 22 September 2015, Solo Online Community (SONIC) mewakili komunitas digital Kota Surakarta mengikuti Forum Pembahasan Peluang dan Tant...
Pada 22 September 2015, Solo Online Community (SONIC) mewakili komunitas digital Kota Surakarta mengikuti Forum Pembahasan Peluang dan Tantangan Pengembangan Industri Software di Jawa Tengah yang diadakan oleh Direktorat Industri Elektronika dan Telematika, Kementerian Perindustrian Republik Indonesia. Selain dari Kota Surakarta, pertemuan yang diadakan di Kota Semarang ini dihadiri pula komunitas dan pelaku usaha digital se-Jawa Tengah, seperti dari Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Jepara, dan Salatiga. SONIC diwakili oleh General Secretary-nya, Silvester Adi Surya, yang juga pemilik dari Software House "Javasoftware".
Forum Pembahasan Peluang dan Tantangan Pengembangan Industri Software di Jawa Tengah
Acara ini dibuka oleh Drs. Kumarsi, M.M., Kabid Industri Alat Transportasi, Elektronika, dan Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah. Pembahasan awal dimulai dari wacana Kementerian Perindustrian yang akan merancang perundang-undangan yang melindungi pelaku usaha software dalam negeri dengan menetapkan kadar TKDN untuk produk software. Sehingga diharapkan industri software dalam negeri dapat bersaing dengan industri asing.
Pembicara pertama ialah Bapak Mohammad Sidiq yang merupakan founder PT. Dinustech. Dinustech sendiri berdiri pada tahun 2009, Sidiq bersama putra dari Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang saat itu menggagas usaha ini. Awalnya programmer di Dinustech adalah mahasiswa dari Udinus. Namun kini selain mahasiswa magang dari Udinus, terdapat pula alumni Udinus yang bekerja di Dinustech. Saat ini Dinustech fokus pada software berdasarkan order. "Dinustech sekarang produknya masih custom soft. Kami berencana tahun 2016, Dinustech akan memproduksi juga untuk public soft," katanya yang merupakan dosen di Udinus ini.
Pada diskusi ini, Sidiq menceritakan banyaknya peluang yang dapat dijangkau oleh pelaku usaha software. Seperti software di bidang kesehatan, e-goverment, machine to machine (M2M), smart city, mobile, e-payment, big data, maupun enterprise. Ia mengatakan peluang tersebut seharusnya diambil oleh anak-anak Indonesia. Namun ia mengkritik para programmer Indonesia yang rata-rata kemampuannya terbatas. "Programmer Indonesia ilmu programming-nya OK. Namun skill manajemennya sangat kurang," jelasnya. Ia menjelaskan bahwa programmer di Indonesia sangat terampil membuat software, namun tidak bisa menjualnya. "Programmer kita masih kalah dengan Malaysia yang punya skill (manajemen) ini. Tidak heran jumlah software house disana jauh lebih banyak," tambahnya.
Saat diminta pendapat mengenai banyaknya programmer yang kurang bisa berinovasi karena terbiasa melakukan hal teknis, ia memberi saran untuk programmer agar sering mengkritisi dirinya sendiri. "Kritisi produk-produk yang telah dihasilkan, agar produk custom tadi bisa menjadi produk ide kita. Kritisilah bersama tim agar punya sudut pandang yang berbeda-beda," katanya.
Pembicara pertama ialah Bapak Mohammad Sidiq yang merupakan founder PT. Dinustech. Dinustech sendiri berdiri pada tahun 2009, Sidiq bersama putra dari Rektor Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang saat itu menggagas usaha ini. Awalnya programmer di Dinustech adalah mahasiswa dari Udinus. Namun kini selain mahasiswa magang dari Udinus, terdapat pula alumni Udinus yang bekerja di Dinustech. Saat ini Dinustech fokus pada software berdasarkan order. "Dinustech sekarang produknya masih custom soft. Kami berencana tahun 2016, Dinustech akan memproduksi juga untuk public soft," katanya yang merupakan dosen di Udinus ini.
Mohammad Sidiq, founder Dinustech
Pada diskusi ini, Sidiq menceritakan banyaknya peluang yang dapat dijangkau oleh pelaku usaha software. Seperti software di bidang kesehatan, e-goverment, machine to machine (M2M), smart city, mobile, e-payment, big data, maupun enterprise. Ia mengatakan peluang tersebut seharusnya diambil oleh anak-anak Indonesia. Namun ia mengkritik para programmer Indonesia yang rata-rata kemampuannya terbatas. "Programmer Indonesia ilmu programming-nya OK. Namun skill manajemennya sangat kurang," jelasnya. Ia menjelaskan bahwa programmer di Indonesia sangat terampil membuat software, namun tidak bisa menjualnya. "Programmer kita masih kalah dengan Malaysia yang punya skill (manajemen) ini. Tidak heran jumlah software house disana jauh lebih banyak," tambahnya.
Saat diminta pendapat mengenai banyaknya programmer yang kurang bisa berinovasi karena terbiasa melakukan hal teknis, ia memberi saran untuk programmer agar sering mengkritisi dirinya sendiri. "Kritisi produk-produk yang telah dihasilkan, agar produk custom tadi bisa menjadi produk ide kita. Kritisilah bersama tim agar punya sudut pandang yang berbeda-beda," katanya.
Pembicara kedua ialah Arfian Fuandi dari Dtech Engineering. Perlu diketahui bahwa Arfian telah menjadi buah bibir di media nasional karena diisukan oleh para tetangganya bahwa ia mempunyai tuyul untuk menuju kekayaan. Padahal ia menjadi CAD desainer yang permintaannya mayoritas berasal dari Amerika Serikat. Tak heran pria dari Salatiga ini lebih banyak beraktivitas di kediaman yang menjadi kantornya untuk menyelesaikan pesanan desain dari klien.
Arfian Fuandi, founder Dtech Engineering
Pada diskusi kali ini, Arfian mengingatkan bahwa era globalisasi sudah kita alami. Ia menjelaskan bahwa pasar tidak hanya berkisar di kota, provinsi, atau nasional saja. Namun kini di seluruh muka bumi bisa menjadi pasar kita. Ia menganalogikan dulu setiap negara memiliki kapalnya sendiri. Bila ada satu kapal karam, kapal lain tidak merasakan efek dari karamnya kapal tersebut. Namun kini gambaran untuk negara-negara sudah berubah.
Sekarang negara-negara tersebut adalah berupa kamar-kamar yang ada dalam suatu kapal yang besar. Pasti, jika terdapat satu kamar terbakar, efeknya akan cepat dirasakan oleh kamar-kamar di satu kapal tersebut. Untuk itu, ia menambahkan bahwa sekarang masanya ekspansi pasar hingga ujung dunia. "Dibantu dengan media online, hal ini menjadi mungkin. Kita bisa memiliki pasar di Amerika, Uni Eropa, Timur Tengah, meski kita hanya punya kantor di Jawa Tengah," ucapnya.
Suasana Diskusi FGD Industri Software Jawa Tengah
Arfian menceritakan bahwa pembentukan Dtech Engineering awalnya menggunakan crowdsourcing dan crowdfunding. Dengan ini, ia sekarang memiliki pasar yang mayoritas dari luar negeri, contohnya Amerika Serikat, Kanada, Perancis, hingga Inggris. "Modalnya kami memiliki positioning product yang kuat untuk bersaing dengan yang lain," kata Arfian yang hanya lulusan SMK permesinan ini.
Saat diminta pendapat mengenai banyaknya programmer yang kurang bisa berinovasi karena terbiasa melakukan hal teknis, ia memberi saran untuk programmer agar memikirkan kegunaan dari produk yang akan diciptakan. "Untuk develop something yang harus kita jawab ialah apa manfaat bagi manusia? Baru kita bisa mem-produce produk baru," ujarnya.
Bandlet di Hotel Ibis Semarang
Perwakilan dari SONIC, Silvester Adi Surya, mengapresiasi kegiatan yang dilaksanakan oleh Kemenperin dan Dinperindag Jawa Tengah ini. Ia mengatakan bahwa melalui diskusi ini, para komunitas dan pelaku usaha digital dapat saling berbagi pengalamannya dengan yang lain. Selain itu, forum ini juga memberikan masukan-masukan terhadap pihak pemerintah untuk memberikan langkah-langkah yang menguntungkan para pelaku usaha digital dalam negeri.
"Forum ini sangat bagus. Pembicara utamanya sangat menginspirasi bagi kami. Serta diberi ruang untuk memberikan masukan kepada pemerintah. Saya sebagai SONIC mengharapkan pemerintah makin melindungi para pelaku usaha digital Indonesia, sehingga bisa menjadi raja di kandangnya sendiri," katanya.




